TechnoUpdate News

Mungkinkah Data Center Dibangun di Luar Angkasa? Peluang dan Tantangannya

Wacana membangun data center di luar angkasa — gagasan yang digaungkan Sam Altman — menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini solusi nyata untuk krisis energi dan daya komputasi tinggi, atau sekadar mimpi mahal?

Semakin intensifnya kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud membuat beban daya dan infrastruktur di Bumi terus membengkak. Di tengah kondisi itu, ide membangun data center — bukan di darat — melainkan di luar angkasa, muncul sebagai gagasan ambisius dari salah satu tokoh besar di dunia teknologi. Sam Altman, CEO perusahaan AI terkemuka, dikabarkan tertarik menempatkan pusat data global di orbit, sebagai langkah kreatif menghadapi keterbatasan daya dan tanah di Bumi. detikinet+1

Menurut wacana tersebut, data center di orbit akan memanfaatkan energi Matahari secara terus-menerus, tanpa terpengaruh cuaca, malam hari, atau musim. Panel surya di ruang angkasa bisa menangkap cahaya matahari secara efisien — sebuah keuntungan besar dibandingkan center di bumi yang tergantung pada jaringan listrik konvensional dan terpapar masalah supply listrik maupun perubahan iklim. Selain itu, ruang angkasa menawarkan kondisi pendinginan alami yang lebih ideal. Tanpa atmosfer, panas yang dihasilkan oleh server bisa dilepaskan langsung ke ruang hampa, berpotensi memangkas kebutuhan energi untuk pendinginan secara drastis.

Konsep data center luar angkasa juga menjanjikan pengurangan beban lingkungan di Bumi — misalnya penggunaan lahan yang luas, konsumsi air untuk pendinginan, serta emisi karbon akibat operasional besar-besaran. Dengan pusat data di orbit, tekanan terhadap sumber daya darat bisa berkurang, memberi ruang bagi konservasi lahan dan sumber daya.

Namun, sejauh langit mulai nampak sebagai solusi, realitas membawa komplikasi besar. Pertama, biaya untuk meluncurkan hardware ke orbit tetap sangat tinggi. Meskipun teknologi roket berulang pakai semakin berkembang, membawa server, panel surya, sistem pendingin, dan perlindungan radiasi ke luar angkasa tetap memerlukan investasi miliaran dolar — dan belum tentu ekonomis dalam waktu dekat.

Read More  Di Tengah Tekanan Ekonomi, Kripto dan Emas Jadi Andalan Investasi Warga Indonesia

Kedua, lingkungan luar angkasa sama sekali bukan lingkungan “ramah server”: perlengkapan harus tahan terhadap radiasi matahari, suhu ekstrem (dari sangat dingin di ruang gelap ke sangat panas saat terkena sinar matahari), dan risiko tabrakan partikel kecil atau meteoroid. Server-server biasa yang dirancang untuk darat bisa rusak cepat jika tanpa perlindungan khusus.

Ketiga, masalah pemeliharaan dan layanan teknis. Di Bumi, ketika ada hardware rusak, teknisi bisa langsung turun tangan. Di orbit, hal itu jauh lebih rumit — butuh robot otonom atau misi antariksa untuk memperbaiki, mengganti komponen, atau memperbarui perangkat lunak. Prosedur ini mahal, berisiko, dan lambat.

Keempat, tantangan latensi dan komunikasi. Meski orbit bisa menjanjikan koneksi global, jarak antara Bumi dan satelit/ pusat data di orbit bisa menyebabkan delay — belum lagi kebutuhan bandwidth besar dan komunikasi terenkripsi untuk menjaga keandalan data.

Karena itu, banyak analis menilai bahwa data center luar angkasa masih merupakan konsep jangka panjang — mungkin relevan untuk beban komputasi ekstrem, AI skala besar, atau kebutuhan khusus seperti pemrosesan data dari satelit dan misi ruang angkasa. Sementara untuk kebutuhan umum, pusat data di darat masih lebih praktis dan efisien.

Gagasan Altman ini, jika dibarengi inovasi besar di sektor antariksa — seperti roket reusable, modul pendingin ruang angkasa, robot pemeliharaan otomatis, dan konektivitas satelit cepat — bisa menjadi masa depan infrastruktur digital global. Namun sampai semua tantangan teknis, biaya, dan logistik teratasi, data center luar angkasa tetap berada di ranah ambisi dan “moonshot”.

Back to top button